Search This Blog

Wednesday, 27 April 2016

Bunga Potong



Akhir-akhir ini tanaman hortikultura mendapatkan perhatian besar dari pemerintah terbukti tanaman hortikultura dimasukkan dalm subsektor tanaman pangan.
Komoditi hortikultura khususnya bunga potong dicirikan oleh hal hal seperti berikut :
 a. Produknya bersifat musiman
 b. Diperlukan dalm kondisi segar.
c. Tidak dapat disimpan dalam waktu yang lama
d. Sifatnmya bulky (volumenya besar tetapi nilainya relatif kecil).
e. Khusus untuk bunga potong, diusahakan pada daerah atau lokasi yang khusus pula (tidak dapat  diusahakan di sembarang tempat).
f. Pengusahanya umumnya memerlikan biaya yangrelatif tinggi dan memerlikan penguasaan teknologi atau keterampilan khusus.
                Menurut Lismunandar (1991), mutu bunga potong sebagai komoditi hortikultura sangat tergantung pada penampakannya (bentuk fisik) yang menarik dan daya tahan kesegarannya. Penampilan dan daya tahan yang prima itu ditentukan oleh banyak faktor, tetapi yang utama adalah penanganannya mulai dari masa prapanen sampai ke masa pasca panen. Oeh karena itu, bila menghendaki kualitas bunga yang baik, sejak tanam, perawatan hingga masa petik dan sampai  pada pengangkutan dari kebun ke tempat penampungan harus diusahahkan secara hati-hati dan intensif.
                Beberapa contoh bunga potong:
1.       Tanaman bunga Crysant
Tanaman bunga crysant sering pula disebut bunga seruni. Bunga ini sudah lama dikena, teta[i yang terdapat di pasaran lokal salah satunya di pasar Kayoon (Surabaya) dan di beberapa florist hanya jenis bunga tunggal besar dengan warna putih atau kuning. Kedua jenis bunga ini dianggap sebagai standar bunga Crysant di Indonesia, karena sejak zaman Belanda dahulu hingga saat ini masih saja ditanam para petani secara tradisional. Padahal jenis Crysant hasil pemuliaan mutakhir, seperti di Belanda dan Jepang telah menghasilkan beberapa varietas baru yang dijual secar komersial.
                Masa potong bunga dilakukan pada saat bunga sudah mekar penuh sehingga seluruh ruangan kantong tampak terisi. Bunga bersama batang pokoknya dipotong sepanjang 60-75 cm, tanpa dilepas kantong pembungkus bunganya. Kemudian dimasukan ke dalam keranjang untuk diangkut ke pasaran. Dengan demikian, bunga tidak akan mengalami kerusakan selama perjalanan.
2.       Tanaman Bunga Garbera
Bunga Garbera kini sudah merebak di pasaran bunga dalam jumlah yang cukup besar, dan sudah ada di Indonesia sejak dulu. Biasanya bunga ini disebut sebagai “Herbras” atau “Air Beras”. Garbera ditanam terutama di daerah pegunungan yang beriklim sejuk. Bentuk bunganya adalah berbunga tunggal dan tangkainya tidak berdaun. Tanaman bunga Garbera generasi terbaru hasil pemuliaan di negeri Belanda memang menampilkan sosok lain dari bunga yang telah dikenal. Ukuran bunganya yang semakin besar dan warna yang semakin cerah, beragam serta produktivitas tanaman cukup tinggi.
                Masa potong bunga Garbera dilakukan pada saat bunganya saat akan atau saat sudah membuka penuh. Biasanya bunga tidak dipotong, tetapi ditarik sedemikian rupa hingga terlepas dari batangnya.
3.       Tanaman Bunga Mawar
Bunga mawar dapat tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi. Tetapi untuk mawar tertentu seperti mawar teh hibrida hanya menyukai dataran tinggi sebab bunganya akan tumbuh dengan sempurna, baik bentuk, ukuran, warna, maupun baunya. Media tumbuh sebaiknya tanah yang gembur dan kaya akan kadar humus, sebab tanah yang demikian daya tahannya terhadap air relatif baik. Tanaman mawar tidak menyukai air menggenang. Mawar tumbuh dengan baik pada tanah yang derajat keasaman pHnya antara 6-8.
Bunga mawar dipotong pada saat kuntum bunga telah mencapai ukuran optimal dan tampak akan merekah. Waktu yang terbaik untuk memotong adalah siang hari setelah pukul 16.00 sore. Setelah dipotong, bunga dimasukkan minimal separuh dari panjang tangkai bunga ke dalam air yang bersih atau jernih. Hal ini untuk menjaga agar tanaman dapat tahan lama.
Agar bunga tetap segar ddalam waktu yangrelatif lama, maka diperlukan pengawet bunga. Menurut buletin Aspindo yang dikutip oleh mingguan tabloid agrobis ada banyak macam bahan pengawet bunga, diantaranya yang diproduksi oleh pabrik yang memang khusus untuk bunga dan ada pula yang mencampurnya sendiri dari beberapa zat kimia. Tetapi, tiap bunga mempunyai karakteristik masing-masing. Karena itu hati-hati dalam pemakaiannya. Sebab bila keliru menggunakan bahan kimia, hasilnya justru akan mengecewakan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi periode kesegaran bunga setelah pemanenan adalah :
  1. Kemekaran bunga
Kemekaran bunga berhubungan dengan umur saat pemetikan. Bunga sebaiknya dipanen pada saat bunga tidak mekar secara sempurna atau penuh. Tidak pula bunga dipanen pada saat bunga belum mekar. Hal tersebut berhubungan dengan cadangan makanan yang dimiliki oleh bunga. Bunga yang dipanen ketika mekar penuh dikhawatirkan dalam perjalanan dapat terjadi percepatan pembusukan mahkota kemudian terjadi kemunduran lebih cepat. Bunga yang dipanen terlalu awal dikhawatirkan dapat membuka karena kekurangan cadangan makanan.
2.      Persediaan makan
Karbohidrat dan gula disimpan dalam tangkai, daun dan petal yang akan digunakan dalam pembukaan kuntum bunga. Penambahan persediaan makanan dapat membantu memasok kerbohidrat yang hilang akibat respirasi.
3.      Cara pemetikan yang benar
Pemotongan yang benar dapat menghindari dari kerusakan. Kerusakan pada jaringan dapat mempercepat proses kemunduran (deteriorasi).
4.      Temperatur
Tingkat respirasi yang tinggi merupakan petunjuk dari penuaan. Respirasi bunga potong akan meningkat seiring dengan meningkatnya temperature. Tingkat penuaan dapat diturunkan dengan perlakuan pendinginan.
5.      Persediaan air
Persediaan air berhubungan dengan proses penggantian air yang terjadi dalam tanaman yang telah dipotong. Tanaman yang telah dipotong akan menggantungkan persediaan air dalam tanaman itu sendiri untuk proses mempertahankan turgiditas sel dan dalam melakukan respirasi. Persediaan air yang cukup akan lebih mampu mempertahankan masa kesegaran bunga potong itu sendiri.

Kualitas bunga potong dilihat dari lamanya umur relatif bunga potong dalam keadaan tetap segar dan indah setelah dipotong dari tanaman induk dan memiliki karakteristik daya tarik / keindahan visual seperti aroma, tekstur bunga, tangkai, daun dan lain-lain.
Penanganan pasca panen yang baik amat menentukan masa kesegaran bunga potong. Hal ini ditegaskan oleh Apandi (1984) yang menyatakan bahwa sesudah substrat dan air yang digunakan oleh tanaman dalam melakukan proses respirasi tidak dapat tergantikan lagi, sejak saat itu mulailah kemunduran (deterioration). Untuk itulah penting sekali artinya menghambat atau memperlambat proses respirasi agar kemunduran (deteriorasi) tidak segera terjadi. Dalam menjaga keadaan bunga potong sehingga tetap segar dan indah dilakukan usaha pengawetan untuk memperpanjang masa segar bunga atau bagian tanaman lainnya yang telah dipotong Salah satu cara untuk mempertahankan kesegaran bunga yaitu dengan menggunakan larutan gula dan garam
Masa kesegaran merupakan jumlah hari yang dihitung pada saat bunga mekar hingga bunga layu atau gugur, yaitu terkulainya atau berkerutnya jaringan akibat perubahan sifat elastis karena menurunnya tekanan turgor. Masa kesegaran bunga potong menurut Standar Nasional Indonesia (1998) adalah sekitar 5-7 hari. Apabila tidak ditangani dengan baik menurut Rukmana dan Mulyana (1997) hanya 2-3 hari saja. Kerusakan dapat terjadi pada saat pemanenan, penyimpanan dan pengangkutan.
Lamanya masa kesegaran bunga potong salah satunya ditentukan oleh cadangan makanan. Bunga yang telah dipotong dari tangkainya masih melakukan aktivitas metabolisme Pemanfaatan cadangan makanan dilakukan ketika bunga telah terpisah dari tanaman asal. Peristiwa pemanfaatan cadangan makanan ini dinamakan respirasi. Respirasi menurut Weichmann (1987) adalah pemecahan secara oksidasi molekul – molekul kompleks dalam sel tumbuhan seperti pati, gula, dan asam organik menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana (CO2 dan H2O), bersama – sama menghasilkan pula energi dan molekul lain yang dapat digunakan kembali oleh sel  tersebut. Salisbury dan Ross (1995) menambahkan peristiwa respirasi sebenarnya tidak hanya melibatkan satu macam reaksi saja namun merupakan rangkaian reaksi.


               


               
               

Sebaran Hama



Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan dan Persebaran Serangga Hama

Hama dalam artian sempit  adalah hewan yang merusak/ mengganggu kepentingan manusia. Rumput yang sengaja ditanam dirusak belalang, belalang disebut hama. Padi ditanam dan diserang penggerek batang, penggerek batang disebut hama. Bunga warna putih yang indah, dikotori feces kumbang, kumbang disebut hama dan masih banyak lagi contoh lainnya. Manusia selalu menemui, berbagai kendala untuk bisa melindungi dini dari gangguan  serangga. Dapat dilihat bagaimana kebun  jagung dihabiskan  oleh  belalang atau ulat grayak, tanaman padi sawah hancur karena serangga wereng atau penggerek batang, biji-bijian yang disimpan dalam gudang tidak bisa dimanfaatkan lagi karena kumbang hama atau serangga hama gudang lainnya.
Apabila pengertian hama itu hewan yang merugikan, maka serangga hama didefinisikan sebagai serangga yang mengganggu dan atau merusak tanaman haik secara ekonomis atuu estetis. Definisi hama itu tidak harus dihubungkan dengan pengendaliannya. Pada populasi serangga yang rendah sehingga kerugian yang diderita tanaman kecil, tetap serangga itu dikatakan serangga hama tetapi bukan memerlukan strategi pengendalian.



Faktor lain
Faktor makanan
Faktor biotik
Faktor iklim
Serangga hama






1.   Faktor iklim
Dalam memahami hubungan antara cuaca dan iklim dengan serangga yang lebih penting adalah memahami keadaan iklim mikro di dalam pertanaman tempat serangga itu hidup. Faktor-faktor iklim yang diduga berpengaruh terhadap hama di antaranya adalah suhu, kelembapan relatif, curah hujan, cahaya dan angin.
a.  Suhu
Pengaruh suhu udara terhadap hama dan penyakit tumbuhan antara lain mengendalikan perkembangan, kelangsungan hidup dan penyebaran serangga. Tinggi rendahnya suhu tubuh serangga menyesuaikan suhu udara lingkungannya (hyphothermal).
Zona suhu minimum, daerah dimana serangga tak dapat bertahan hidup atau menyesuaikan diri lagi terhadap lingkungan sehingga mati kedinginan. Setiap  serangga  mempunyai  kisaran  suhu  tertentu,  dimana  pada  suhu  terendah  ataupun  suhu tertinggi, serangga tersebut masih dapar bertahan hidup.  Serangga  di daerah  tropis tidak tahan  terhadap suhu   rendah   dibandingkan   serangga   yang   hidup   di   daerah   sub   tropis,   mendekati   suhu   minimum perkembangan  serangga  menjadi  lambat  walaupun  serangga  masih  hidup,  keadaan  tersebut  disebut diapause. Diapause karena suhu minimum disebut hibernasi dan  yang disebabkan suhu maksimum disebut estivasi. Jelaslah kehidupan serangga hama di alam dipengaruhi oleh suhu dengan kisaran suhu 15°C - 50°C .
Sebagai contoh, pertumbuhan populasi Myzus persicae Sulz dalam 15 hari tampak meningkat dengan cepat pada keadaan kisaran suhu 15,4oC - 33,7oC dengan rata-rata 28,4oC, pertumbuhan populasi menjadi tertekan lebih rendah. Selanjutnya pada kisaran suhu tinggi 14,3oC - 41,7oC dengan rata-rata30oC  pertumbuhan  populasi  menjadi sangat tertekan.
b.   Kelembaban
Serangga pada umumnya kisaran toleransi terhadap kelembaban udara yang optimum terletak di dekat titik maksimum, antara 73-100%. Selama serangga terbang sejumlah air tubuh akan hilang melalui penguapan, meskipun demikian proporsi air dalam tubuh dan proses hidrasi bahan kering (lemak dan glikogen) cenderung tetap.
c.  Curah hujan
Pengaruh hujan terhadap perkembangan hama dapat secara langsung berupa pengaruh mekanis, misalnya hujan lebat dapat menghanyutkan serangga. Sedangkan banyak sedikitnya hujan dapat berpengaruh tak langsung terhadap perkembangan hama, karena tinggi rendahnya hujan erat hubungannya dengan suhu maksimum, minimum serta tekanan udara. Keadaan kelembaban  udara  dan  tanah  yang  berbeda  antara  periode  bulan  basah  dan  bulan  kering  dapat  meningkat, menghambat, atau merangsang kehidupan serangga.
d.  Cahaya dan radiasi
Pengaruh cahaya terhadap perilaku serangga berbeda antara serangga yang aktif siang hari dengan yang aktif malam hari. Pada serangga yang aktif siang hari keaktifannya akan dirangsang oleh keadaan intensitas maupun panjang gelombang cahaya di sekitarnya. Sebaliknya pada serangga malam, keadaan cahaya tertentu mungkin dapat menghambat keaktifannya.
Pada umumnya radiasi yang berpengaruh terhadap serangga adalah radiasi infra merah, dalam hal  ini berpengaruh  untuk  memanaskan  tubuh  serangga. Walaupun  demikian panas tubuh suatu organisme tidak hanya ditentukan oleh jumlah radiasi jenis ini karena secara fisik setiap foton yang menimpa tubuh serangga akan memperbesar energi kinetis molekul tubuh tersebut. Secara singkat dapat dikatakan bahwa energi dari panas radiasi disekitar organisme  ikut  mengatur  suhu tubuh  serangga  melalui  pengaruhnya  terhadap  pertumbuhan  tanaman.
e.  Angin
Secara langsung angin dan gerakan udara tak berpengaruh terhadap pertumbuhan hama. Namun angin merupakan faktor penting dalam menyebarkan hama dan penyakit tumbuhan. Kecepatan terbang belalang kembara sangat dibantu oleh kecepatan dan arah angin, pada angin yang sepoi-sepoi terbang melawan arah angin, tapi bila angin kencang terbang mengikuti arah angin. Serangga ordo Hymenoptera, Diptera, Coleoptera dan Orthoptera umumnya terbang pada cuaca cerah tanpa angin. Jika kecepatan angin melampaui 15 km/jam, aktivitas terbang terhenti.
2.   Faktor biotik
Komponen yang terpenting adalah parasitoid, predator dan entomopatogen. Parasitoid  berukuran  lebih  kecil  dan  mempunyai  waktu  perkembangan  lebih  pendek  dari  hostnya  serta menumpang hidup pada atau di dalam tubuh serangga hama. Dalam tubuh host/inang tersebut, parasitoid mengisap cairan tubuh atau memakan jaringan bagian dalam tubuh inang. Parasitoid yang hidup di dalam tubuh inang disebut endoparasitoid dan yang menempel di luar tubuh inang disebut ectoparasitoid. Parasitoid umumnya mempunyai inang yang lebih spesifik, sehingga dalam keadaan tertentu parasitoid lebih efektif mengendalikan hama. Kelemahan dari parasitoid itu karena adanya parasitoid tertentu yang dapat terkena parasit lagi oleh parasitoid lain. Kejadian seperti diatas disebut hiperparasitisme dan parasitoid lain tersebut disebut parasit sekunder.
Kemudian  predator  biasanya  berukuran  lebih  besar  dan  perkembangannya  lebih  lama. Predator tidak spesifik terhadap pemilihan mangsa. Oleh karena itu predator adalah serangga atau hewan lain yang memakan serangga hama secara langsung. Predator yang monophagous menggunakan serangga hama sebagai makanan utamanya. Predator seperti ini biasanya efektif tetapi mempunyai kelemahan, yaitu apabila populasi hama yang rnenjadi hama mangsanya lebih biasanya predator yang dapat bertahan hidup. Pada umumnya predator tidak bersifat monophagous, contoh: Kumbang famili Coccinellidae, belalang sembah dan lain sebagainya.
Selanjutnya entomopatogen meliputi cendawan, bakteri, virus, nematoda atau hewan mikro lainnya yang dapat mempengaruhi kehidupan serangga hama. Entomopatogen sudah mulai dikembangkan sebagai pestisida alami untuk mengendalikan serangga hama. Sebagai contoh Bacillus thuringiensis sudah diformulasikan dengan berbagai merek dagang. Bakteri ini akan menginfeksi larva sehingga tidak mau makan dan akhirnya larva mati. Demikian pula dengan cendawan sudah dikembangkan untuk mengendalikan serangga hama, seperti Metarhizium anisopliae yang digunakan untuk mengendalikan larva Oryctes rhinoceros. Entomopatogen lain seperti virus Nuclear Po1yhidrosis Virus (NPV) yang mempunyai prospek cukup baik untuk mengendalikan larva Lepidoptera, seperti ulat grayak.
Hubungan faktor biotik dengan populasi serangga berupa hubungan irreversible  (faktor biotik            serangga hama). Oleh karena itu faktor biotik dapat digunakan untuk menekan populasi serangga hama, dengan menggunakan serangga yang memangsa serangga hama yang merugikan sebagai predator alaminya ataupun yang bersifat parasitoid, selain itu dengan menggunakan bakteri Bacillus thuringiensis dan cendawan Metarhizium anisopliae sebagai entomopatogen untuk mengendalikan serangga hama.
3.   Faktor makanan
Faktor makanan sangat penting bagi kehidupan serangga hama. Keberadaan faktor makanan akan dipengaruhi oleh  suhu, kelembaban,  curah  hujan  dan  tindakan manusia.  Apabila semua faktor lain sangat mendukung perkembangan serangga maka pertambahan populasi serangga akan sejalan dengan makin bertambahnya makanan. Keadaan sebaliknya akan menurunkan populasi serangga hama. Hubungan faktor makanan dengan populasi serangga itu disebut hubungan bertautan padat atau density independent.  (faktor makanan                serangga hama)
Oleh karena itu faktor makanan dapat digunakan untuk menekan populasi serangga hama, baik dalam bentuk tidak memahami lahan pertanian dengan tanaman yang merupakan makanan serangga hama, bisa juga menanami lahan pertanian dengan tanaman yang tidak disukai serangga hama tertentu atau dengan tanaman resisten. Makin luasnya tanaman kelapa akan meningkatkan, populasi Artona sp. Walaupun demikian Artona lebih menyukai daun tua dan bukan daun muda yang baru terbuka ataupun daun yang belum terbuka kurang disukai. Walang sangit hanya menghisap butir padi dalam keadaan matang susu. Jelaslah tersedianya kualitas makanan dalam jumlah yang memadai akan meningkatkan populasi hama dengan cepat.
4.   Faktor lain
Adapun faktor-faktor lain yang dimaksud seperti misalnya komponen lingkungan sekitar, faktor pengendalian, dan faktor internal serangga
Kemampuan berkembang biak (reproductive potensial) akan menentukan tinggi rendahnya populasi hama. Apabila   ditelusuri   lebih   lanjut,   kemampuan   berkembang  biak  itu   bergantung  kepada   kecepatan berkembang  biak  (rate  of  multiplication)  dan  perbandingan  sex  ratio  serangga  hama, serta jangka waktu perkembangan serangga tersebut.
Perbandingan  serangga  jantan  dan  serangga  betina  atau  lebih  dikenal  dengan  sex  ratio  sangat  penting  dalam menentukan cepatnya pertumbuhan populasi hama. Sebagian besar serangga mempunyai sex ratio 1:1 yang artinya kemungkinan serangga jantan dan serangga betina bertemu melakukan kopulasi akan lebih tinggi sehingga reproduksi serangga tersebut akan tinggi. Pada sebagian serangga hama jangka waktu perkembangan dari telur sampai dewasa berlangsung pendek, tetapi   pada   serangga   lain   perkembangannya   berlangsung   lama.   Serangga   yang   mengalami   metamorfosa holometabola perkembangan serangga dimulai dari telur-larva-pupa/kepompong-dewasa. Pada serangga yang mengalami metamorfasa hemimetabola atau paurometabola perkembangannya dimulai dari telur-nimfa-dewasa.
Pengendalian yang dilakukan dapat berupa pengendalian kultur teknis yang mengupayakan agar pertumbuhan tanaman senantiasa sehat sehingga  mampu  mengatasi  serangan  berbagai  spesies  serangga hama. Inti pengendalian dengan memodifikasi usaha pertanian  sehingga lingkungan kurang  mendukung  bagi  perkembangan  serangga  hama  tetapi  pertumbuhan tanaman tetap baik. Selain itu dengan pengendalian hayati yang menggunakan komponen biotik untuk mengendalikan serangga hama tersebut. Sedangkan pengendalian secara kimiawi dituntut kebijakan dari pengguna sehingga tidak menimbulkan kerugian lain sehingga pengendalian kimia hanya dilakukan jika serangan serangga hama tersebut telah melampaui ambang batas ekonomi.
Selain komponen lingkungan biotik dan fisik, komponen lingkungan abiotik juga turut mempengaruhi perkembangan dan persebaran serangga. Sebagai contoh kehidupan lalat pengorok sangat dipengaruhi oleh faktor abiotik. Misalnya, pemupukan nitrogen yang berlebihan pada tanaman akan merangsang lalat pengorok untuk datang pada tanaman, menyerang, dan berkembang biak dengan lebih baik. Beberapa penelitian juga membuktikan bahwa lalat pengorok ini menunjukkan gejala tahan (resisten) terhadap insektisida.







Kompos



Membuat pupuk Effective Microorganisme atau EM
Pupuk EM adalah pupuk organik yang dibuat melalui proses fermentasi menggunakan bakteri (microorganisme). Sampah organik dengan proses EM dapat menjadi pupuk organik yang bermanfaat meningkatkan kualitas tanah.Beriikut langkah-langkah pembuatan pupuk menggunakan EM :
Pembuatan bakteri penghancur (EM).
Bahan-bahan :
* Susu sapi atau susu kambing murni.
* Isi usus (ayam/kambing), yang dibutuhkan adalah bakteri di dalam usus.
* Seperempat kilogram terasi (terbuat dari kepala/kulit udang, kepala ikan) + 1 kg Gula pasir (perasan tebu) + 1 kg bekatul + 1 buah nanas + 10 liter air bersih.
Alat-alat yang diperlukan :Panci, kompor dan blender/parutan untuk menghaluskan nanas.
Cara pembuatan :* Trasi, gula pasir, bekatul, nanas (yang dihaluskan dengan blender) dimasak agar bakteri lain yang tidak diperlukan mati.
* Setelah mendidih, hasil adonannya didinginkan.
* Tambahkan susu, isi usus ayam atau kambing.
* Ditutup rapat. Setelah 12 jam timbul gelembung-gelembung.
* Bila sudah siap jadi akan menjadi kental/lengket.Perlu diperhatikan susu jangan yang sudah basi karena kemampuan bakteri sudah berkurang. Sedangkan kegunaan nanas adalah untuk menghilangkan bau hasil proses bakteri.

Cara Pembiakan Bakteri
Untuk menghemat biaya, bibit bakteri EM4 yang dibeli di toko atau koperasi Saprotan dapat dikembangbiakkan sendiri, sehingga kebutuhan pupuk organik untuk luas lahan yang ada dapat dipenuhi. Adapun prosedur pembiakan bakteri EM4 adalah sebagai berikut:
Bahan dan Komposisi:
1literbakteri
3kgbekatul
(minimal)
¼ kg gula merah/gula pasir/tetes tebu (pilih salah satu)
¼kgterasi
5literair
AlatdanSarana:
Ember, Pengaduk, Panci pemasak air, Botol penyimpan, Saringan (dari kain atau kawatkasa).
Cara Pembiakan:
-           Panaskan 5 liter air sampai mendidih.
-          Masukkan terasi, bekatul dan tetes tebu/gula (jika memakai gula merah harus dihancurkan dulu), lalu aduk hingga rata.
Setelah campuran rata, dinginkan sampai betul-betul dingin! (karena kalau tidak betul-betul dingin, adonan justru dapat membunuh bakteri yang akan dibiakkan).
-          Masukkan bakteri dan aduk sampai rata. Kemudian ditutup rapat selama 2 hari. Pada hari ketiga dan selanjutnya tutup jangan terlalu rapat dan diaduk setiap hari kurang lebih 10 menit.
-          Setelah 3-4 hari bakteri sudah dapat diambil dengan disaring, kemudian disimpan dalam botol yang terbuka atau ditutup jangan terlalu rapat (agar bakteri tetap mendapatkan oksigend ari udara).
-          Selanjutnya, botol-botol bakteri tersebut siap digunakan untuk membuat kompos, pupuk cair maupun pupuk hijau dengan komposisi campuran seperti yang akan diuraikan dibawah ini.
Catatan: Ampas hasil saringan dapat untuk membiakkan lagi dengan menyiapkan air kurang lebih 1 liter dan menambahkan air matang dingin dan gula saja.

Menakar Komposisi Kandungan EM4
Teknologi EM (Effective Mikroorganism) dapat digunakan dalam bidang pertanian, peternakan, perikanan, lingkungan, kesehatan dan industri. Meski sudah banyak kalangan masyarakat yang menggunakan tapi tidak banyak yang tahu tentang EM, komposisi kandungan, fungsi dan jenis-jenis EM.
EM merupakan campuran dari mikroorganisme bermanfaat yang terdiri dari lima kelompok, 10 Genius 80 Spesies dan setelah di lahan menjadi 125 Spesies. EM berupa larutan coklat dengan pH 3,5-4,0. Terdiri dari mikroorganisme Aerob dan anaerob. Meski berbeda, dalam tanah memberikan multiple efect yang secara dramatis meningkatkan mikro flora tanah. Bahan terlarut seperti asam amino, sacharida, alkohol dapat diserap langsung oleh akar tanaman.
Kandungan EM terdiri dari bakteri fotosintetik, bakteri asam laktat, actinomicetes, ragi dan jamur fermentasi. Bakteri fotosintetik membentuk zat-zat bermanfaat yang menghasilkan asam amino, asam nukleat dan zat-zat bioaktif yang berasal dari gas berbahaya dan berfungsi untuk mengikat nitrogen dari udara. Bakteri asam laktat berfungsi untuk fermentasi bahan organik jadi asam laktat, percepat perombakan bahan organik, lignin dan cellulose, dan menekan pathogen dengan asam laktat yang dihasilkan.
Actinomicetes menghasilkan zat anti mikroba dari asam amino yang dihasilkan bakteri fotosintetik. Ragi menghasilkan zat anti biotik, menghasilkan enzim dan hormon, sekresi ragi menjadi substrat untuk mikroorganisme effektif bakteri asam laktat actinomicetes. Cendawan fermentasi mampu mengurai bahan organik secara cepat yang menghasilkan alkohol ester anti mikroba, menghilangkan bau busuk, mencegah serangga dan ulat merugikan dengan menghilangkan pakan.
Fungsi EM untuk mengaktifkan bakteri pelarut, meningkatkan kandungan humus tanahlactobonillus sehingga mampu memfermentasikan bahan organik menjadi asam amino. Bila disemprotkan di daun mampu meningkatkan jumlah klorofil, fotosintesis meningkat dan percepat kematangan buah dan mengurangi buah busuk. Juga berfungsi untuk mengikat nitrogen dari udara, menghasilkan senyawa yang berfunsi antioksidan, menekan bau limbah, menggemburkan tanah, meningkatkan daya dukung lahan, meningkatkan cita rasa produksi pangan, perpanjang daya simpan produksi pertanian, meningkatkan kualitas daging, meningkatkan kualitas air dan mengurangi molaritas Benur.
Jenis-jenis EM yang ada seperti EM1 yang berupa media padat berbentuk butiran yang mengandung 90% actinomicetes. Berfungsi untuk mempercepat proses pembentukan kompos dalam tanah. EM2 terdiri dari 80 species yang disusun berdasarkan perbandingan tertentu.
Berbentuk kultur dalam kaldu ikan dengan pH 8,5. dalam tanah mengeluarkan antibiotik untuk menekan patogen. EM3 terdiri dari 95% bakteri fotosintetik dengan pH 8,5 dalam kaldu ikan yang berfungsi membantu tugas EM2. Sakarida dan asam amino disintesa oleh bakteri fotosintetik sehingga secara langsung dapat diserap tanaman. EM4 terdiri dari 95% lactobacillus yang berfungsi menguraikan bahan organik tanpa menimbulkan panas tinggi karena mikroorganisme anaerob bekerja dengan kekuatan enzim. EM5 berupa pestisida organik.


Sampah organic secara alami akan mengalami peruraian oleh berbagai jenis mikroba, binatang yang hidup di tanah, enzim dan jamur. Proses peruraian ini memerlukan kondisi tertentu, yaitu suhu, udara dan kelembaban. Makin cocok kondisinya, makin cepat pembentukan kompos, dalam 4 – 6 minggu sudah jadi. Apabila sampah organic ditimbun saja, baru berbulan-bulan kemudian menjadi kompos. Dalam proses pengomposan akan timbul panas krn aktivitas mikroba. Ini pertanda mikroba mengunyah bahan organic dan merubahnya menjadi kompos. Suhu optimal untk pengomposan dan harus dipertahankan adalah 45-65C.Jika terlalu panas harus dibolak-balik, setidak-tidaknya setiap 7 hari.
Peralatan Di dalam rumah ( ruang keluarga, kamar makan ) dan di depan dapur disediakan 2 tempat sampah yang berbeda warna untuk sampah organic dan sampah non-organic. Diperlukan bak plastic atau drum bekas untuk pembuatan kompos. Di bagian dasarnya diberi beberapa lubang untuk mengeluarkan kelebihan air. Untuk menjaga kelembaban bagian atas dapat ditutup dengan karung goni atau anyaman bambu. Dasar bak pengomposan dapat tanah atau paving block, sehingga kelebihan air dapat merembes ke bawah. Bak pengomposan tidak boleh kena air hujan, harus di bawah atap.
Cara Pengomposan
- Campur 1 bagian sampah hijau dan 1 bagian sampah coklat.
- Tambahkan 1 bagian kompos lama atau lapisan tanah atas (top soil) dan dicampur. Tanah atau kompos ini mengandung mikroba aktif yang akan bekerja mengolah sampah menjadi kompos. Jika ada kotoran ternak ( ayam atau sapi ) dapat pula dicampurkan .
- Pembuatan bisa sekaligus, atau selapis demi selapis misalnya setiap 2 hari ditambah sampah baru. Setiap 7 hari diaduk.
- Pengomposan selesai jika campuran menjadi kehitaman, dan tidak berbau sampah. Pada minggu ke-1 dan ke-2 mikroba mulai bekerja menguraikan membuat kompos, sehingga suhu menjadi sekitar 40C. Pada minggu ke-5 dan ke-6 suhu kembali normal, kompos sudah jadi.
- Jika perlu diayak untuk memisahkan bagian yang kasar. Kompos yang kasar bisa dicampurkan ke dalam bak pengomposan sebagai activator.Keberhasilan pengomposan terletak pada bagaimana kita dapat mengendalikan suhu, kelembaban dan oksigen, agar mikroba dapat memperoleh lingkungan yang optimal untuk berkembang biak, ialah makanan cukup (bahan organic), kelembaban (30-50%) dan udara segar (oksigen) untuk dapat bernapas.
Sampah organic sebaiknya dicacah menjadi potongan kecil. Untuk mempercepat pengomposan, dapat ditambahkan bio-activator berupa larutan effective microorganism (EM) yang dapat dibeli di toko pertanian.

Cara Membuat Pupuk Cair Organik
Bahan dan Alat:
1literbakteri
5 kg hijau-hijauan/daun-daun segar (bukan sisa dan jangan menggunakan daun dari pohon yang bergetah berbahaya seperti karet, pinus, damar, nimba, dan yang sulit lapuk seperti jato, bambu, dan lain-lainnya)
0,5 kg terasi dicairkan dengan air secukupnya
1 kg gula pasir/merah/tetes tebu (pilih salah satu) dan dicairkan dengan air
30 kg kotoran hewan
Airsecukupnya
Ember/gentong/drum yang dapat ditutup rapat
Cara Pembuatan:
-          Kotoran hewan dan daun-daun hijau dimasukkan ke dalam ember.
Cairan gula dan terasi dimasukkan ke dalam ember.
-          Larutkan bakteri ke dalam air dan dimasukkan ke dalam drum, kemudian ditutup rapat. Setelah 8-10 hari, pembiakan bakteri sudah selesai dan drum sudah dapat dibuka.
-          Saring dan masukkan ke dalam wadah yang bersih (botol) untuk disimpan/digunakan.
-          Ampas sisa saringan masih mengandung bakteri, sisakan sekitar 1 sampai 2 liter, tambahkan air, terasi, dan gula dengan perbandingan yang sama. Setelah 8-10 hari kemudian bakteri sudah berkembang biak lagi dan siap digunakan. Demikian seterusnya.
-          Kegunaan:Mempercepat pengomposan dari 3-4 bulan menjadi 30-40 hari.
-          Dapat digunakan langsung sebagai pupuk semprot, apabila tanah sudah diberi kompos (subur), tetapi apabila tanah kurang subur/tandus, penggunaan langsung sebagai pupuk tidak dianjurkan.
Pupuk cair (larutan bakteri) ini tidak diperbolehkan untuk dicampur dengan bakteri lain, terutama bahan kimia atau bahan untuk pestisida lainnya seperti tembakau.

Cara Membuat Pupuk Hijau Organik
Pupuk Hijau: adalah pupuk organik yang terbuat dari sisa tanaman atau sampah yang diproses dengan bantuan bakteri.
Bahan dan Komposisi:
200 kg hijau daun atau sampah dapur.
10 kg dedak halus.
¼ kg gula pasir/gula merah.
¼ liter bakteri.
200 liter air atau secukupnya.
Cara Pembuatan:
-          Hijau daun atau sampah dapur dicacah dan dibasahi.
-          Campurkan dedak halus atau bekatul dengan hijau daun.
-          Cairkan gula pasir atau gula merah dengan air.
-          Masukkan bakteri ke dalam air. Campurkan dengan cairan gula pasir atau gula merah. Aduk hingga rata.
-          Cairan bakteri dan gula disiramkan pada campuran hijau daun/sampah+bekatul. Aduk sampai rata, kemudian digundukkan/ditumpuk hingga ketinggian 15-20 cm dan ditutup rapat.
-          Dalam waktu 3-4 hari pupuk hijau sudah jadi dan siap digunakan.


Cara Pembuatan Pupuk Kompos
Persiapan pembuatan pupuk kompos ialah :
Harus disediakan tempat yang teduh, yang tidak terkena sinar matahari langsung. Sebaiknya tempat pembuatan kompos ini di bawah pohon yang rindang. Supaya mudah untuk menyiram sebaiknya dekat dengan tempat pengambilan air.

Ukuran tempatnya , lebar 2 m , panjang 5 m dan tinggi 2 m. ukuran tempat bisa di ubah sesuai dengan tempatnya.
Bahan-bahan yang di gunakan untuk membuat kompos adalah :
a. Sampah, tapi yang sudah bersih dari benda keras misalnya : batu, krikil, kaleng, plastik, kaca, dll.
b. Jerami, rerumputan, dedaunan, kotoran ternak, abu dapur, kapur, dan tanah atau tanah liat.

Cara membuatnya :
1. Di tempat yang suda ditentukan tancapkan 4 batang bambu yang panjangnya lebih kurang 30 cm sebagai patok.
2. Di dalam lingkaran patok tesebut, sampah di tumpuk setebal lebih kurang 50 cm. sampah tersebut sudah bersih dari benda keras maupun plastik.
3. Lapisan sampah disiram dengan air atau lebih baik lg kalou dicampur dengan air kencing maupun kotoran ternak
4. Sampah setinggi 50 cm itu, akan memadat setelah di siram air menjadi kurang lebih 25 cm. Setelah disiram  sampah di taburi kapur dan abu secara merata, untuk mempercepat proses pembusukan.
5. Di atas lapisan abu itu di taburi lg dengan tanah liat setebal 2 cm. agar zat yang sudah larut dapat tahan dan tidak lenyap atau hanyut.
6. Selanjutnya, di atas lapisan tanah tadi di lapisi dengan kototan ternak setebal 2-5 cm. Makin tebal kotoran ternaknya makin cepat proses pembusukannya menjadi kompos.

Mohon diperhatikan bahwa mulai ad, 1 sampai ad. 6, merupakan susunan satu lapis. untuk lapisan berikutnya, disusun lagi seperti yang telah diuraikan di atas hingga mencapai ketinggian 2 meter.
Setelah susunan mencapai 2 meter, maka di atasnya di tutup tanah liat setebal 5 cm. Pada bagian sisi atau samping untuk selama 2 minggu tidak usah ditutup, untuk memudahkan masuknya udara pada lapisan tersebut, sehingga mempercepat proses pembusukan,

Setiap pagi dan sore tumpukan kompos disiram dengan air, tapi jangan terlalu berlebihan, cukup yang penting tidak sampai kekeringan aja. Setelah 2 minggu sisi atau samping segera ditutup dengan tanah liat. Setelah 2 bulan tumpukan kompos ini sudah siap di gunakan untuk penyubur tanah dan tanaman

Teh Kompos
Berikut ini adalah langkah-langkah membuat teh kompos :
1. Siapkan seember air. Anda bisa menggunakan air keran atau air hujan. Biarkan air ini selama sekitar 24 jam untuk mengendapkan kandungan klorin.
2. Siapkan sebuah ember baru yang bersih. Tambahkan satu sekop kompos, atau sekitar 1 galon. Tuangkan air yang telah disiapkan tadi ke dalam ember berisi kompos dengan rasio 5:1 (air/kompos). Aduk hingga tercampur secara merata.
3. Biarkan cairan kompos ini berkembang dan berfermentasi selama kurang lebih tiga hingga tujuh hari. Jangan lupa untuk mengaduk campuran ini secara merata beberapa kali setiap hari untuk memberikan oksigen ke dalam air. Campuran kompos-air ini membutuhkan oksigen, jadi jangan terlalu mengabaikan bagian ini.
4. Setelah sekitar seminggu, saringlah teh kompos dengan selembar kain halus atau nylon. Pisahkan cairan teh kompos yang telah disaring ini dalam sebuah ember kosong, sedangkan kompos yang tersaring kain dapat dicampurkan lagi dengan kompos lain .
5. Cairan teh kompos hasil saringan harus diencerkan lebih dulu dengan cara mencampur 10 bagian air dengan 1 bagian teh kompos. Setelah diencerkan, teh kompos baru dapat disemprotkan ke tanaman. Jangan menyemprotkan teh kompos ke tanaman dalam kondisi panas terik untuk melindungi kerusakan tanaman akibat panas.
6. Siram atau semprotkan teh kompos untuk tanaman Anda setiap dua pekan atau seperlunya. Teh kompos dapat diaplikasikan untuk tanaman yang setidaknya sudah berdaun, meskipun teh kompos juga dapat menyuburkan tanah saat penanaman bibit.
7. Perlu diingat, teh kompos harus selalu beraroma segar dan berbau tanah. Jika beraroma menyengat jangan dulu dipakai tetapi tambahkan lebih banyak air dan aduk lebih dalam dan lebih sering setiap hari. Teh yang beraroma menyengat pertanda kurang mendapat oksigen. Untuk hasil terbaik, gunakan teh kompos satu jam setelah proses fermentasi.


1. Kompos Jadi Siap Pakai
Kompos alami banyak terdapat di lahan-lahan yang sebelumnya menjadi tempat pembangan sampah organik. Untuk mendapatkannya :
  1. Gali tumpukan sampah (garbage atau sampah lapuk) yang sudah seperti tanah.
  2. Pisahkan dari bahan-bahan yang tidak dapat lapuk.
  3. Jemur sampai kering, lalu ayak.
  4. Bubuhkan 50 - 100 gram belerang untuk setiap 1 kg tanah sampah.
Bahan:  
  • 2 1 /4 hingga 4 m3 sampah lapuk (garbage). 
  • 6,5 m3 kulit buah kopi. 
  • 750 kg kotoran ternak memamah biak (± 50 kaleng ukuran 20 liter). 
  • 30 kg abu dapur atau abu kayu.
Cara Membuat
  1. Buatlah bak pengomposan dari bak semen. Dasar bak cekung dan melekuk di bagian tengahnya. Buat lubang pada salah satu sisi bak agar cairan yang dihasilkan dapat tertampung dan dimanfaatkan. 
  2. Atau buatlah bak pengomposan dengan menggali tanah ukuran 2,5 x 1 x 1 m (panjang x lebar x tinggi). Tapi hasilnya kurang sempurna dan kompos yang dihasilkan berair dan lunak. 
  3. Aduk semua bahan menjadi satu kecuali abu. Masukkan ke dalam bak pengomposan setinggi 1 meter, tanpa dipadatkan supaya mikroorganisme aerob dapat berkembang dengan baik. Kemudian taburi bagian atas tumpukan bahan tadi dengan abu. 
  4. Untuk menandai apakah proses pengomposan berlangsung dengan balk, perhatikan suhu udara dalam campuran bahan. Pengomposan yang baik akan meningkatkan suhu dengan pesat selama 4 - 5 hari, lalu segera menurun lagi. 
  5. Tampunglah cairan yang keluar dari bak semen. Siram ke permukaan campuran bahan untuk meningkatkan kadar nitrogen dan mempercepat proses pengomposan. 
  6. 2 - 3 minggu kemudian, balik-balik bahan kompos setiap minggu. Setelah 2 -3 bulan kompos sudah cukup matang. 
  7. Jemur kompos sebelum digunakan hingga kadar airnya kira-kira 50 -60 % saja. 
  8. Kalau di daerah kita tidak tersedia kulit buah kopi, cara ke II dapat diadaptasi dengan menggantikan kulit buah kopi dengan hijauan seperti Iamtoro ataulainnya.


2. Kompos Sistem Bogor
Bahan :
  1. Sampah mudah lapuk (garbage)kompos-3.
  2. Jerami yang sudah bercampur dengan kotoran dan air kencing ternak. 
  3. Kotoran ternak memamah biak.
  4. Abu dapur atau abu kayu.
Cara Membuat:
  1. Timbuni campuran jerami dan sampah setinggi 25 cm di atas bedengan berukuran 2,5 x 2,5 meter. 
  2. Timbun lagi campuran kotoran dan air kencing ternak di atas timbunan tadi tipis-tipis dan merata. 
  3. Timbun lagi campuran jerami dan sampah-sampah setinggi 25 cm. 
  4. Tutup lagi dengan campuran kotoran dan kencing ternak. 
  5. Timbun bagian paling atas dengan abu sampai setebal ± 10 cm. 
  6. Balik-balik campuran bahan kompos setelah berlangsung 15 hari, 30 hari dan 60 hari. 
  7. Setelah di proses selama 3 bulan kompos biasanya cukup matang. 
  8. Agar pengomposan berhasil, buatlah atap naungan di atas bedengan pengomposan sebab air hujan dan penyinaran langsung matahari dapat menggagalkan proses pengomposan.

3. Kompos Sistem Terowongan Udara
Membuat kompos dengan sistem terowongan udara, yaitu dengan menumpukkan daun-daun, potongan rumput dan bahan lain di atas segitiga panjang yang terbuat dari bambu atau kayu.
Bahan :
  1. Daun, rumput 
Sampah organik

Cara membuat:
  1. Buat terowongan segitiga. 
  2. Terowongan udara terbuat dari bambu atau kayu berukuran kira kira : tinggi 20 cm, panjang 1.5 - 2 meter. Buatlah dua buah dan letakkan berdampingan. 
  3. Tumpuklah daun dan bahan yang lain diatas satu terowongan udara & biarkan yang satunya. 
  4. Tambahkan bahan & siram dengan air secara teratur setiap hari agar tumpukan tetap lembab. 
  5. Setelah bagian bawah mulai menghitam (seperti tanah), baliklah tumpukan keatas terowongan udara yang satunya. Tumpuk bahan yang baru di atas terowongan yang lama. 
  6. Jaga kelembaban tumpukan dengan menyiramnya secara teratur & biarkan sampai menjadi kompos (kira-kira 6 minggu atau warnanya kehitaman semua). 
  7. Setelah bahannya menjadi kompos, bisa digunakan untuk kebun. Ulangi lagi proses diatas, supaya anda selalu punya kompos. 
  8. Kompos yang anda buat sendiri ini bisa digunakan untuk kesuburan tanah dan kesehatan tanaman anda.




4. Kompos Rumah Tangga
Sampah organik secara alami akan mengalami peruraian oleh berbagai jenis mikroba, binatang yang hidup di tanah, enzim dan jamur. Proses penguraian ini memerlukan kondisi tertentu, yaitu suhu, udara dan kelembaban.

Makin cocok kondisinya, makin cepat pembentukan kompos, dalam 4 – 6 minggu sudah jadi. Apabila sampah organic ditimbun saja, baru berbulan-bulan kemudian menjadi kompos. Dalam proses pengomposan akan timbul panas krn aktivitas mikroba. Ini pertanda mikroba mengunyah bahan organic dan merubahnya menjadi kompos. Suhu optimal untk pengomposan dan harus dipertahankan adalah 45-65C.Jika terlalu panas harus dibolak-balik, setidak-tidaknya setiap 7 hari.

Bahankompos-4
  1. Di dalam rumah ( ruang keluarga, kamar makan ) dan di depan dapur disediakan 2 tempat sampah yang berbeda warna untuk sampah organic dan sampah non-organic. 
  2. Diperlukan bak plastic atau drum bekas untuk pembuatan kompos. Di bagian dasarnya diberi beberapa lubang untuk mengeluarkan kelebihan air. Untuk menjaga kelembaban bagian atas dapat ditutup dengan karung goni atau anyaman bambu. 
  3. Dasar bak pengomposan dapat tanah atau paving block, sehingga kelebihan air dapat merembes ke bawah. Bak pengomposan tidak boleh kena air hujan, harus di bawah atap.

Cara Membuat
  1. Campur 1 bagian sampah hijau dan 1 bagian sampah coklat. 
  2. Tambahkan 1 bagian kompos lama atau lapisan tanah atas (top soil) dan dicampur. Tanah atau kompos ini mengandung mikroba aktif yang akan bekerja mengolah sampah menjadi kompos. Jika ada kotoran ternak ( ayam atau sapi ) dapat pula dicampurkan . 
  3. Pembuatan bisa sekaligus, atau selapis demi selapis misalnya setiap 2 hari ditambah sampah baru. Setiap 7 hari diaduk. 
  4. Pengomposan selesai jika campuran menjadi kehitaman, dan tidak berbau sampah. Pada minggu ke-1 dan ke-2 mikroba mulai bekerja menguraikan membuat kompos, sehingga suhu menjadi sekitar 40C. Pada minggu ke-5 dan ke-6 suhu kembali normal, kompos sudah jadi. 
  5. Jika perlu diayak untuk memisahkan bagian yang kasar. Kompos yang kasar bisa dicampurkan ke dalam bak pengomposan sebagai activator. 
  6. Keberhasilan pengomposan terletak pada bagaimana kita dapat mengendalikan suhu, kelembaban dan oksigen, agar mikroba dapat memperoleh lingkungan yang optimal untuk berkembang biak, ialah makanan cukup (bahan organic), kelembaban (30-50%) dan udara segar (oksigen) untuk dapat bernapas. 
  7. Sampah organic sebaiknya dicacah menjadi potongan kecil. Untuk mempercepat pengomposan, dapat ditambahkan bio-activator berupa larutan effective microorganism (EM) yang dapat dibeli di toko pertanian.