Penggunaan logam berat dan senyawa organik secara
intensif di dalam industri telah menimbulkan kontaminasi di tanah dan air. Metode-metode
remediasi berbasis fisika dan kimia telah dikembangkan dan diterapkan untuk
mengatasi pencemaran. Dalam dua dekade terakhir penelitian, pengembangan dan
penerapan metode remediasi berbasis tumbuhan mendapat perhatian luas di
Amerika, Australia, dan Eropa.
Metode remediasi yang dikenal
sebagai fitoremediasi ini mengandalkan pada peranan tumbuhan untuk menyerap,
mendegradasi, mentransformasi dan mengimobilisasi bahan pencemar, baik itu
logam berat maupun senyawa organik. Mengingat akan kekayaan hayati tumbuhan
Indonesia yang besar serta ditunjang oleh iklim yang hangat sepanjang tahun,
tentunya sumbangan tumbuhan untuk mengendalikan pencemaran perlu dikaji dan
akhirnya diterapkan bila teknologinya ternyata menguntungkan. Berdasar pada
bahan-bahan yang dipublikasi, makalah ini mencoba menguraikan dasar-dasar
fitoremediasi, mekanisme bekerjanya tumbuhan dalam menyerap logam berat, serta
contoh penerapan fitoremediasi.
Tindakan pemulihan (remediasi) perlu dilakukan agar
lahan yang tercemar dapat digunakan kembali untuk berbagai kegiatan secara
aman. Di samping metode remediasi yang biasa digunakan yang berbasis pada
rekayasa fisik dan kimia, pada satu atau dua dasawarsa terakhir ini perhatian
peneliti dan perusahaan komersial serta industri terhadap penggunaan tumbuhan
sebagai agensia pembersih lingkungan tercemar telah meningkat.
Sesungguhnya
ide mengenai penggunaan tumbuhan sebagai agensia pembersih lingkungan bukan hal
yang baru. Sejak lama kita telah mengenal manfaat tumbuhan sebagai
"pengusir zat beracun dari udara" sehingga adanya tumbuhan dianggap
sebagai penyegar udara di sekitarnya. Dengan makin dipahaminya fisiologi dan
genetika tumbuhan, maka pemanfaatan tumbuhan sebagai agensia pembersih
lingkungan dapat makin diperluas cakupannya dan diperhitungkan manfaatnya dari
segi rekayasa serta nilai ekonominya.
Beberapa
hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan logam berbahaya, pestisida, dan
senyawa organik tertentu di dalam tanah dan air, terutama di kota besar dan
kawasan industri, telah melampaui ambang batas dan cenderung menuju ke tingkat
membahayakan. Oleh karena itu, dipacu oleh akibat kebocoran reaktor nuklir di
Chernobyl – Rusia pada tahun 1986, beberapa peneliti Amerika dan Ukraina telah
melakukan penelitian terhadap kemampuan tanaman jenis Indian mustard untuk
meminimalkan kandungan unsur cesium dan stronsium dalam tanah yang telah
terpapar oleh senyawa radioaktif. Sedangkan di Iowa – AS, para peneliti mencoba
pohon poplar untuk menurunkan kandungan senyawa pestisida jenis atrazine yang
terpapar di dalam tanah dan air tanah.
Penghilangan senyawa atrazine serta unsur radioaktif sangat penting karena kedua jenis senyawa itu merupakan senyawa karsinogenik. Beberapa tahun yang lampau beberapa peneliti Indonesia juga melakukan penelitian dan pengukuran daya penurun kandungan logam berat dan unsur radioaktif dengan menggunakan tanaman enceng gondok.Tiga penelitian di atas adalah contoh pengolahan limbah berbahaya menggunakan teknologi fitoremediasi.
Penghilangan senyawa atrazine serta unsur radioaktif sangat penting karena kedua jenis senyawa itu merupakan senyawa karsinogenik. Beberapa tahun yang lampau beberapa peneliti Indonesia juga melakukan penelitian dan pengukuran daya penurun kandungan logam berat dan unsur radioaktif dengan menggunakan tanaman enceng gondok.Tiga penelitian di atas adalah contoh pengolahan limbah berbahaya menggunakan teknologi fitoremediasi.
FITOREMEDIASI
Berawal
pada pertengahan tahun 1990-an, seorang Professor Agronomi dari Universitas
Purdue menanam rumput sejenis St. Augustine dan rye (gandum hitam) di lahan
pertanian terkontaminasi minyak bumi. Perusahaan minyak telah melakukan
pembersihan tetapi banyak kontaminan bersifat karsinogen yang disebut
polynuclear aromatic hidrokarbon (PAHs) yang tertinggal di dalam tanah. Inilah
pertama kalinya teknik fitoremediasi digunakan dalam membersihkan sisa-sisa
minyak pada lahan pertanian. Teknik ini berhasil dengan baik. Dua tahun
kemudian 75% kontaminan berhasil dibersihkan.
Fitoremediasi
merupakan suatu sistem remediasi yang menarik namun masih merupakan teknologi
yang sedang berada dalam tahap awal perkembangannya. Kemajuan dalam pemahaman
berbagai disiplin ilmu, terutama dalam fisiologi tumbuhan dan genetika akan
mendorong perkembangan teknologi ini secara lebih cepat. Sebagai suatu
teknologi yang sedang berkembang, fitoremediasi telah menarik banyak pihak
termasuk peneliti dan pengusaha. Di Indonesia masalah pencemaran terus dihadapi
sesuai dengan kemajuan industri sehingga usaha remediasi serta pencegahan pencemaran
perlu diperhatikan. Fitoremediasi diharapkan dapat memberikan sumbangan yang
nyata dan praktis bagi usaha mempertahankan dan memperbaiki kualitas lingkungan
di Indonesia.
Fitoremediasi adalah penggunaan tanaman
dan mikroorganisma terkait, untuk mendegradasi, menyerap atau membuat
kontaminan pada tanah dan/atau air tanah menjadi tidak berbahaya. Pada dasarnya
fitoremediasi memanfaatkan inisiatif manusia untuk mempercepat proses peluruhan
secara alamiah sebuah area yang terkontaminasi, dan dengan demikian merupakan
penghubung antara sebuah teknologi buatan manusia dengan proses alamiah. Oleh
karena fitoremediasi tergantung pada hubungan yang sinergis, dan alamiah antara
tanaman, mikroorganisma dan lingkungannya, maka dia tidak membutuhkan teknologi
yang sangat intensif, atau drastis, seperti pengerukan tanah. Dalam hal ini
intervensi manusia masih diperbolehkan, hanya sebatas untuk menciptakan sebuah
komunitas tanaman dan mikroba yang sesuai pada area tertentu, sebagai contoh
penggunaan tehnik agronomi, seperti pengolahan lahan dan pemupukan, untuk
mempercepat proses peluruhan secara alamiah atau proses pengendapannya.
Pemanfaatan tumbuhan untuk remediasi
lingkungan sangat ditentukan oleh pemahaman tentang penyerapan logam serta
penyerapan dan atau degradasi senyawa organik oleh tumbuhan. Pada dasawarsa
terakhir terjadi akumulasi yang cepat tentang pengetahuan mengenai aspek-aspek
fisiologi tersebut. Karakteristik penting dari tumbuhan sebagai fitoremediasi:
1. Tumbuhan harus bersifat hipertoleran agar dapat mengakumulasi sejumlah besar logam berat di dalam batang serta
daun.
2. Tumbuhan harus mampu menyerap
logam berat dari dalam larutan tanah dengan laju penyerapan yang tinggi.
3. Tumbuhan harus mempunyai kemampuan untuk
mentranslokasi logam berat yang diserap akar ke bagian batang serta daun.
Selain mempunyai kemampuan menyerap logam berat,
tumbuhan mampu menyerap dan mendegradasi zat organik serta hara. Kemampuan ini
telah dimanfaatkan dalam pengendalian serta pemulihan lingkungan yang tercemar.
Di dalam aplikasi di lapangan sering berbagai jenis tumbuhan dipadukan
mengingat keunggulan yang dipunyai oleh tiap jenis. Contoh aplikasi yang telah
dilakukan di lapangan meliputi reduksi berbagai senyawa organik seperti
atrazin, chlordane, chlorinated solvent, nitrobenzena, trinitrotoluena (TNT),
trinitroetilena, pentakhlorofenol, dan phenanthrene; serta senyawa anorganik
seperti nitrat dan amonium. Sebagian besar dari aplikasi ini adalah operasi
skala penuh di lapangan.
Proses dalam
Fitoremediasi
Terdapat beberapa proses yang berkaitan
dengan fitoremediasi. Proses - proses tersebut antara lain yakni :
1. Fitoekstrasksi yaitu proses tumbuhan menarik zat kontaminan dari media sehingga berakumulasi di sekitar akar tumbuhan, proses ini juga disebut hiperaccumulation.
2. Rhizofiltrasi (Rhizo = akar) adalah proses adsorbs atau pengendapan zat-zat kontaminan pada akar (menempel pada akar).
3. Fitostabilisasi yaitu penempelan zat-zat kontaminan tertentu pada akar yang tidak mungkin terserap ke dalam batang tumbuhan. Zat-zat tersebut menempel erat (stabil) pada akar sehingga tidak akan dibawa oleh aliran air dalam media.
4. Rhizodegradasi/fitostimulasi (enhanced rhizosphere biodegradation) yaitu penguraian zat-zat kontaminan dengan aktivitas mikroba yang berada di sekitar akar tumbuhan. Misalnya ragi, fungi dan bakteri.
5. Fitodegradasi (phytotransformation) yaitu proses yang dilakukan tumbuhan untuk menguraikan zat kontaminan yang mempunyai rantai molekul yang kompleks menjadi bahan yang tidak berbahaya dengan susunan molekul yang lebih sederhana yang dapat berguna bagi pertumbuhan tanaman itu sendiri. Proses ini dapat berlangsung pada daun, batang, akar atau di luar di sekitar perakaran dengan bantuan enzim berupa bahan kimia yang mempercepat proses degradasi.
6. Fitovolatilisasi yaitu proses menarik dan transpirasi zat-zat kontaminan oleh tumbuhan dalam bentuk yang telah menjadi larutan terurai sebagai bahan yang tidak berbahaya lagi utnuk selanjutnya diuapkan ke atmosfer.
1. Fitoekstrasksi yaitu proses tumbuhan menarik zat kontaminan dari media sehingga berakumulasi di sekitar akar tumbuhan, proses ini juga disebut hiperaccumulation.
2. Rhizofiltrasi (Rhizo = akar) adalah proses adsorbs atau pengendapan zat-zat kontaminan pada akar (menempel pada akar).
3. Fitostabilisasi yaitu penempelan zat-zat kontaminan tertentu pada akar yang tidak mungkin terserap ke dalam batang tumbuhan. Zat-zat tersebut menempel erat (stabil) pada akar sehingga tidak akan dibawa oleh aliran air dalam media.
4. Rhizodegradasi/fitostimulasi (enhanced rhizosphere biodegradation) yaitu penguraian zat-zat kontaminan dengan aktivitas mikroba yang berada di sekitar akar tumbuhan. Misalnya ragi, fungi dan bakteri.
5. Fitodegradasi (phytotransformation) yaitu proses yang dilakukan tumbuhan untuk menguraikan zat kontaminan yang mempunyai rantai molekul yang kompleks menjadi bahan yang tidak berbahaya dengan susunan molekul yang lebih sederhana yang dapat berguna bagi pertumbuhan tanaman itu sendiri. Proses ini dapat berlangsung pada daun, batang, akar atau di luar di sekitar perakaran dengan bantuan enzim berupa bahan kimia yang mempercepat proses degradasi.
6. Fitovolatilisasi yaitu proses menarik dan transpirasi zat-zat kontaminan oleh tumbuhan dalam bentuk yang telah menjadi larutan terurai sebagai bahan yang tidak berbahaya lagi utnuk selanjutnya diuapkan ke atmosfer.
Keuntungan Fitoremediasi
Beberapa keuntungan fitoremediasi
diantaranya, yaitu potensial untuk diaplikasikan, aman untuk digunakan, dampak
negatif relatif kecil, memberikan efek positif yang multiguna, biaya operasi relatif
murah, mampu mereduksi volume kontaminan, serta memberikan keuntungan langsung
bagi kesehatan masyarakat. Adapun keterbatasan fitoremediasi adalah terutama
yang berhubungan dengan batasan konsentrasi kontaminan yang dapat ditolerir
oleh tumbuhan, masalah kebocoran kontaminan yang sangat larut dalam air dan
lamanya waktu yang diperlukan pada fitoremediasi tanah yang tercemar
Jenis Tanaman untuk
Fitoremediasi
Fitoremediasi dapat digunakan untuk
membersihkan logam, pestisida, pelarut minyak mentah, PAH, dan limbah cair yang
dihasilkan oleh sebuah tempat penampungan sampah. Berdasarkan etimologinya,
fitoremediasi berasal dari bahasa Yunani/greek, phyton yang berarti tumbuhan/
tanaman (plant) dan remediation berasal dari kata latin remediare (to remedy) yaitu
berarti memperbaiki, atau menyembuhkan atau membersihkan sesuatu.
Beberapa
pedoman untuk memilih jenis tanaman yang dapat digunakan dalam fitoremediasi
adalah mampu mengikat air dalam jumlah besar, cepat tumbuh pada semua musim dan
terus-menerus tumbuh pada musim - musim awal penanaman, mudah ditumbuhkan,
kedalaman dan distribusi rhizosfer sesuai dengan daerah yang tercemar, mampu
bertahan pada kondisi kering dan basah, tanaman atau rhizosfer mempunyai enzim
degradatif yang tepat dan mampu melakukan bioakumulasi bahan pencemar. Metode
fitoremediasi sangat efektif digunakan di lapangan dalam skala besar (luas)
dengan biaya yang relatif murah. Keberhasilannya sangat tergantung pada jenis
polutan, jenis tanaman dan rekayasa lingkungan serta lamanya waktu dalam proses
tersebut. Belakangan konsep fitoremediasi tersebut telah diaplikasikan untuk
penanganan masalah pencemaran tanah. Salah satu diantaranya yakni penanganan
masalah lumpur minyak bumi (sludge oil) dengan Fitoremediasi menggunakan
tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L).
Fitoremediasi telah terbukti secara
efektif memperbaiki dan mengembalikan kondisi tanah dan air tanah yang
terkontaminasi dengan bahan organik maupun anorganik. Barbagai macam tanaman,
termasuk canola (Brassica napus L.), oat (Avena sativa) dan
barley (Hordeum vulgare) mempunyai toleransi dan dapat menyerap logam
seperti selenium, tembaga, cadmium dan seng Sejenis rumput Alamo (Panicum
virginatum) dapat menyerap bahan radioaktif Cesium-137 (137Cs)
dan Strontium-90 (90Sr) yang sering tumpah pada tempat uji-coba
senjata ataupun akibat kerusakan reaktor nuklir.
Boron termasuk unsur
yang bisa diserap dengan baik oleh beberapa spesies tanaman, misalnya, bunga
matahari (Helianthus annuus). Tanaman bunga matahari bukan hanya mampu mentranslokasikan
Boron, tetapi juga menyerap timah (Pb) sangat tinggi. Tanaman palma-palma-an
dan juga Thlaspi sp umumnya adalah hiperakumulator Cl, Mg, dan juga K yang
bagus. Tanaman Halophytes adalah akumulator sodium (Na) yang baik contohnya,
misalnya, Hordeum vulgare. Tanaman yang mampu menyerap logam dan juga metaloid
umumnya berada dalam spesies Brassicaceae, Asteraceae dan Pteridaceae, dan
lain-lain.
Zink (Zn) dan Kadmium
(Cd) oleh Thlaspi caerulescens (mampu menyerap 20.000 ppm Zn dan di atas 300 ppm
Cd). Nikel (Ni) dapat oleh Alyssum sp dan Berkheya sp ataupun Sebertia
acuminata mampu menyerap nikel (Ni) hingga lebih dari 2 persen dari biomassa
keringnya, sehingga proyek pengembangan pertambangan nikel dengan metode
fitoremediasi sedang dikembangkan besar-besaran (termasuk satu proyek besar di
Indonesia yang sedang berlangsung). Unsur Sulfate oleh Brassicacea sp. Emas
(Au) oleh Brassica sp, proyek fitomining (menambang emas melalui tanaman) untuk
emas terbesar adalah di New Zealand.
Selenium (Se) oleh
Brassica juncea hingga lebih dari 1.000 ppm. Arsenik (As) oleh Pteris vittata
dan Pityrogramma calomelanos yang mampu menyerap lebih dari 10.000 ppm As di
pucuk tanaman. Mercuri (Hg) oleh Pteris vittata dan transgenik Nicotiana
tabacum dan Liriodendron tulipifera. Thallium oleh Brassica oleracea acephala
dan Iberi intermediate. Senyawa organik (petroleum hydrocarbons, PCBs, PAHs,
TCE juga TNT) misal oleh Thlaspi caerulescens, Alyssum murale, Oryza sativa,
dan lain-lain. Unsur Dioxin oleh genus Curcubita (misalnya pumpkin dan
zuchini).
Tanaman sengon (Paraserianthes falcataria L.
Nielsen) yang mampu menyerap kandungan minyak sampai 51,23% dan kandungan logam
berat Cd, Cr, Pb, Cu, Zn dan Ni.masing-masing sebesar 30,2%, 2,5%, 32,6%,
71,9%, 62,8% dan 47,09%. Tumbuhan mengapung (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms
dan Pistia stratiotes L.), dua jenis tumbuhan tenggelam (Hydrilla verticillata
(L.f.) Royle dan Vallisneria spiralis Auct. Non L.) dan dua jenis tumbuhan
mencuat (Typha angustifolia L. dan Cyperus papyrus L.) berpotensi sebagai agen
fitoremediasi dalam menurunkan konsentrasi besi sehingga dapat memperbaiki
kualitas air sumur, agar air dapat digunakan oleh masyarakat.
Keunggulan dan
Kelemahan Fitoremediasi
Fitoremediasi
memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan metode konvensional lain
untuk menanggulangi masalah pencemaran, seperti :
(a) Biaya operasional relatif murah
(b) Tanaman bisa dengan mudah dikontrol
pertumbuhannya.
(c) Kemungkinan
penggunaan kembali polutan yang bernilai seperti emas (Phytomining).
(d) Merupakan
cara remediasi yang paling aman bagi lingkungan karena memanfaatkan tumbuhan.
(e) Memelihara
keadaan alami lingkungan
Walaupun memiliki beberapa kelebihan, ternyata
fitoremediasi juga memiliki beberapa kelemahan. Salah satu kelemahannya adalah
kemungkinan akibat yang timbul bila tanaman yang telah menyerap polutan
tersebut dikonsumsi oleh hewan dan serangga. Dampak negatif yang dikhawatirkan
adalah terjadinya keracunan bahkan kematian pada hewan dan serangga tau terjadinya
akumulasi logam pada predator-predator jika mengosumsi tanaman yang telah
digunakan dalam proses fitoremediasi.
Sampai saat
ini, para peneliti masih mengaji mekanisme yang terjadi dalam proses pengolahan
logam secara fitoremediasi. Beberapa mekanisme yang diusulkan, tetapi belum
dimengerti secara mendalam, antara lain pembentukan khelat logam dalam sistem
intraselular atau ekstraselular, terjadinya senyawa logam yang mudah mengendap,
dan munculnya akumulasi dan translokasi logam dalam sistem vaskular tanaman.
Selain penelitian mekanisme dalam proses di atas, para peneliti juga masih
terus mencari, menyeleksi, dan mengidentifikasi sejumlah tanaman dari seluruh
belahan bumi yang potensial untuk digunakan proses fitoremediasi.
Penelitian dibutuhkan sebelum aplikasi di
lapangan untuk menghindari dampak negatif yang mungkin timbul. Ada empat informasi penting yang dicari dalam
penelitian. Pertama, kemampuan daya akumulasi berbagai jenis tanaman untuk
berbagai jenis logam dan konsentrasi, sifat kimia dan fisika tanah, dan sifat
fisiologi tanaman. Kedua, spesifikasi transpor dan akumulasi logam. Ketiga,
mekanisme akumulasi dan hiper-akumulasi ditinjau secara fisiologi, biokimia,
dan molekular. Keempat, kesesuaian sistem biologi dan evolusi pada akumulasi logam.
Bagaimanapun
juga, teknologi fitoremediasi sebagai metode biokonsentrasi bahan limbah
berbahaya dalam tanah dan air merupakan bidang penelitian yang sangat menarik.
Bidang ini juga memberikan jawaban pertanyaan mendasar tentang sistem biokimia,
nutrisi, dan fisiologi tanaman serta mekanisme akumulasi, resistensi , dan
pembersihan bahan berbahaya. Semua pengetahuan di atas sangat berguna untuk
aplikasi di bidang agroindustri dan lingkungan. Fitoremediasi, walaupun
sekarang masih dalam tahap pengembangan, diharapkan akan menjadi teknologi
pembersih lingkungan yang tangguh di era mendatang, sehingga program
penghijauan dan pembersihan bumi kita akan segara tercapai.
No comments:
Post a Comment