Search This Blog

Wednesday, 27 April 2016

Bunga Potong



Akhir-akhir ini tanaman hortikultura mendapatkan perhatian besar dari pemerintah terbukti tanaman hortikultura dimasukkan dalm subsektor tanaman pangan.
Komoditi hortikultura khususnya bunga potong dicirikan oleh hal hal seperti berikut :
 a. Produknya bersifat musiman
 b. Diperlukan dalm kondisi segar.
c. Tidak dapat disimpan dalam waktu yang lama
d. Sifatnmya bulky (volumenya besar tetapi nilainya relatif kecil).
e. Khusus untuk bunga potong, diusahakan pada daerah atau lokasi yang khusus pula (tidak dapat  diusahakan di sembarang tempat).
f. Pengusahanya umumnya memerlikan biaya yangrelatif tinggi dan memerlikan penguasaan teknologi atau keterampilan khusus.
                Menurut Lismunandar (1991), mutu bunga potong sebagai komoditi hortikultura sangat tergantung pada penampakannya (bentuk fisik) yang menarik dan daya tahan kesegarannya. Penampilan dan daya tahan yang prima itu ditentukan oleh banyak faktor, tetapi yang utama adalah penanganannya mulai dari masa prapanen sampai ke masa pasca panen. Oeh karena itu, bila menghendaki kualitas bunga yang baik, sejak tanam, perawatan hingga masa petik dan sampai  pada pengangkutan dari kebun ke tempat penampungan harus diusahahkan secara hati-hati dan intensif.
                Beberapa contoh bunga potong:
1.       Tanaman bunga Crysant
Tanaman bunga crysant sering pula disebut bunga seruni. Bunga ini sudah lama dikena, teta[i yang terdapat di pasaran lokal salah satunya di pasar Kayoon (Surabaya) dan di beberapa florist hanya jenis bunga tunggal besar dengan warna putih atau kuning. Kedua jenis bunga ini dianggap sebagai standar bunga Crysant di Indonesia, karena sejak zaman Belanda dahulu hingga saat ini masih saja ditanam para petani secara tradisional. Padahal jenis Crysant hasil pemuliaan mutakhir, seperti di Belanda dan Jepang telah menghasilkan beberapa varietas baru yang dijual secar komersial.
                Masa potong bunga dilakukan pada saat bunga sudah mekar penuh sehingga seluruh ruangan kantong tampak terisi. Bunga bersama batang pokoknya dipotong sepanjang 60-75 cm, tanpa dilepas kantong pembungkus bunganya. Kemudian dimasukan ke dalam keranjang untuk diangkut ke pasaran. Dengan demikian, bunga tidak akan mengalami kerusakan selama perjalanan.
2.       Tanaman Bunga Garbera
Bunga Garbera kini sudah merebak di pasaran bunga dalam jumlah yang cukup besar, dan sudah ada di Indonesia sejak dulu. Biasanya bunga ini disebut sebagai “Herbras” atau “Air Beras”. Garbera ditanam terutama di daerah pegunungan yang beriklim sejuk. Bentuk bunganya adalah berbunga tunggal dan tangkainya tidak berdaun. Tanaman bunga Garbera generasi terbaru hasil pemuliaan di negeri Belanda memang menampilkan sosok lain dari bunga yang telah dikenal. Ukuran bunganya yang semakin besar dan warna yang semakin cerah, beragam serta produktivitas tanaman cukup tinggi.
                Masa potong bunga Garbera dilakukan pada saat bunganya saat akan atau saat sudah membuka penuh. Biasanya bunga tidak dipotong, tetapi ditarik sedemikian rupa hingga terlepas dari batangnya.
3.       Tanaman Bunga Mawar
Bunga mawar dapat tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi. Tetapi untuk mawar tertentu seperti mawar teh hibrida hanya menyukai dataran tinggi sebab bunganya akan tumbuh dengan sempurna, baik bentuk, ukuran, warna, maupun baunya. Media tumbuh sebaiknya tanah yang gembur dan kaya akan kadar humus, sebab tanah yang demikian daya tahannya terhadap air relatif baik. Tanaman mawar tidak menyukai air menggenang. Mawar tumbuh dengan baik pada tanah yang derajat keasaman pHnya antara 6-8.
Bunga mawar dipotong pada saat kuntum bunga telah mencapai ukuran optimal dan tampak akan merekah. Waktu yang terbaik untuk memotong adalah siang hari setelah pukul 16.00 sore. Setelah dipotong, bunga dimasukkan minimal separuh dari panjang tangkai bunga ke dalam air yang bersih atau jernih. Hal ini untuk menjaga agar tanaman dapat tahan lama.
Agar bunga tetap segar ddalam waktu yangrelatif lama, maka diperlukan pengawet bunga. Menurut buletin Aspindo yang dikutip oleh mingguan tabloid agrobis ada banyak macam bahan pengawet bunga, diantaranya yang diproduksi oleh pabrik yang memang khusus untuk bunga dan ada pula yang mencampurnya sendiri dari beberapa zat kimia. Tetapi, tiap bunga mempunyai karakteristik masing-masing. Karena itu hati-hati dalam pemakaiannya. Sebab bila keliru menggunakan bahan kimia, hasilnya justru akan mengecewakan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi periode kesegaran bunga setelah pemanenan adalah :
  1. Kemekaran bunga
Kemekaran bunga berhubungan dengan umur saat pemetikan. Bunga sebaiknya dipanen pada saat bunga tidak mekar secara sempurna atau penuh. Tidak pula bunga dipanen pada saat bunga belum mekar. Hal tersebut berhubungan dengan cadangan makanan yang dimiliki oleh bunga. Bunga yang dipanen ketika mekar penuh dikhawatirkan dalam perjalanan dapat terjadi percepatan pembusukan mahkota kemudian terjadi kemunduran lebih cepat. Bunga yang dipanen terlalu awal dikhawatirkan dapat membuka karena kekurangan cadangan makanan.
2.      Persediaan makan
Karbohidrat dan gula disimpan dalam tangkai, daun dan petal yang akan digunakan dalam pembukaan kuntum bunga. Penambahan persediaan makanan dapat membantu memasok kerbohidrat yang hilang akibat respirasi.
3.      Cara pemetikan yang benar
Pemotongan yang benar dapat menghindari dari kerusakan. Kerusakan pada jaringan dapat mempercepat proses kemunduran (deteriorasi).
4.      Temperatur
Tingkat respirasi yang tinggi merupakan petunjuk dari penuaan. Respirasi bunga potong akan meningkat seiring dengan meningkatnya temperature. Tingkat penuaan dapat diturunkan dengan perlakuan pendinginan.
5.      Persediaan air
Persediaan air berhubungan dengan proses penggantian air yang terjadi dalam tanaman yang telah dipotong. Tanaman yang telah dipotong akan menggantungkan persediaan air dalam tanaman itu sendiri untuk proses mempertahankan turgiditas sel dan dalam melakukan respirasi. Persediaan air yang cukup akan lebih mampu mempertahankan masa kesegaran bunga potong itu sendiri.

Kualitas bunga potong dilihat dari lamanya umur relatif bunga potong dalam keadaan tetap segar dan indah setelah dipotong dari tanaman induk dan memiliki karakteristik daya tarik / keindahan visual seperti aroma, tekstur bunga, tangkai, daun dan lain-lain.
Penanganan pasca panen yang baik amat menentukan masa kesegaran bunga potong. Hal ini ditegaskan oleh Apandi (1984) yang menyatakan bahwa sesudah substrat dan air yang digunakan oleh tanaman dalam melakukan proses respirasi tidak dapat tergantikan lagi, sejak saat itu mulailah kemunduran (deterioration). Untuk itulah penting sekali artinya menghambat atau memperlambat proses respirasi agar kemunduran (deteriorasi) tidak segera terjadi. Dalam menjaga keadaan bunga potong sehingga tetap segar dan indah dilakukan usaha pengawetan untuk memperpanjang masa segar bunga atau bagian tanaman lainnya yang telah dipotong Salah satu cara untuk mempertahankan kesegaran bunga yaitu dengan menggunakan larutan gula dan garam
Masa kesegaran merupakan jumlah hari yang dihitung pada saat bunga mekar hingga bunga layu atau gugur, yaitu terkulainya atau berkerutnya jaringan akibat perubahan sifat elastis karena menurunnya tekanan turgor. Masa kesegaran bunga potong menurut Standar Nasional Indonesia (1998) adalah sekitar 5-7 hari. Apabila tidak ditangani dengan baik menurut Rukmana dan Mulyana (1997) hanya 2-3 hari saja. Kerusakan dapat terjadi pada saat pemanenan, penyimpanan dan pengangkutan.
Lamanya masa kesegaran bunga potong salah satunya ditentukan oleh cadangan makanan. Bunga yang telah dipotong dari tangkainya masih melakukan aktivitas metabolisme Pemanfaatan cadangan makanan dilakukan ketika bunga telah terpisah dari tanaman asal. Peristiwa pemanfaatan cadangan makanan ini dinamakan respirasi. Respirasi menurut Weichmann (1987) adalah pemecahan secara oksidasi molekul – molekul kompleks dalam sel tumbuhan seperti pati, gula, dan asam organik menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana (CO2 dan H2O), bersama – sama menghasilkan pula energi dan molekul lain yang dapat digunakan kembali oleh sel  tersebut. Salisbury dan Ross (1995) menambahkan peristiwa respirasi sebenarnya tidak hanya melibatkan satu macam reaksi saja namun merupakan rangkaian reaksi.


               


               
               

No comments:

Post a Comment