KESESUAIAN LAHAN PADA SISTEM
AGROFORESTRI
1. Pengertian Kesesuaian Lahan
Kemampuan
penggunaan lahan adalah suatu sistematika dari berbagai penggunaan lahan
berdasarkan sifat-sifat yang menentukan potensi lahan untuk berproduksi secara
lestari. Lahan diklasifikasikan atas dasar penghambat fisik. Sistem
klasifikasi ini membagi lahan menurut faktor- faktor penghambat serta potensi
bahaya lain yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Jadi, hasil
klasifikasi ini dapat digunakan untuk menentukan arahan penggunaan lahan secara
umum (misalnya untuk budidaya tanaman semusim, perkebunan, hutan produksi dsb).
Di areal HTI hasil klasifikasi ini terutama akan bermanfaat untuk alokasi areal
sistem tumpangsari. Klasifikasi Kemampuan Penggunaan Lahan (KPL) menggunakan
metoda yang dikembangkan oleh USDA dan telah diadaptasikan di Indonesia melalui
Proyek Pemetaan Sumber Daya Lahan kerjasama antara Land Care Research New
Zealand dengan Dept. Kehutanan tahun 1988- 1990 di BTPDAS Surakarta.
Ada tiga kategori dalam klasifikasi KPL, yaitu : Klas,
Sub Klas dan Unit. Pengelompokan Klas didasarkan pada intensitas faktor
penghambat, sedangkan Sub Klas menunjukkan jenis faktor penghambat. Tingkat
terendah adalah Unit yang merupakan pengelompokan lahan yang mempunyai respon
sama terhadap sistem pengelolaan tertentu. Secara umum sistem ini
menggunakan delapan Klas. Apabila makin besar faktor penghambatnya dan makin
tinggi Klasnya maka akan semakin terbatas pula penggunaannya.
Pembagian Klas-klas tersebut adalah sebagai berikut :
Klas
I – IV dapat digunakan untuk sawah, tegalan atau tumpangsari
Klas
V untuk tegalan atau tumpangsari dengan tindakan konservasi tanah
Klas
VI untuk hutan produksi
Klas
VII untuk hutan produksi terbatas
Klas VIII untuk hutan
lindung Adapun penghambat yang digunakan adalah e (erosi), w (drainase),
s (tanah), c (iklim) dan g (kelerengan).
Pada
klasifikasi ini dikenal prioritas penanganan penghambat berdasarkan tingkat
kemudahan penanganannya. Pada kelas yang sama, bilamana mempunyai beberapa
penghambat maka akan dipilih prioritas penghambat yang paling besar. Urutan
prioritas penghambat tersebut adalah (dari yang paling mudah
diatasi) e – w - – s – c – g. Jadi apabila hasil klasifikasi dalam
satu unit lahan menunjukkan Klas IVe, IVw dan IVs, maka akan ditetapkan sebagai
Klas IVs karena mempunyai jenis penghambat yang paling sulit ditangani.
Deskripsi tiap Klas, Sub Klas dan Unit dalam sistem klasifikasi KPL mengikuti
standar yang ada. Deskripsi tersebut dapat dinyatakan dalam satu tabel kriteria.
Kriteria ini kemudian digunakan untuk melakukan sortasi data karakteristik
lahan di setiap unit lahan. Contoh kriteria untuk Klas I antara lain adalah
adanya teknik konservasi tanah yang baik, tidak ada erosi, kedalaman tanah >
90 cm, lereng 0 – 8 % dan tidak ada batuan singkapan pada permukaan tanah.
Kelas
kesesuaian lahan merupakan pembagian lebih lanjut dari Ordo dan menggambarkan
tingkat kesesuaian dari suatu Ordo.
Tingkat dalam kelas ditunjukkan oleh angka (nomor urut) yang ditulis dibelakang simbol Ordo. Nomor urut tersebut menunjukkan tingkatan kelas yang makin menurun dalam suatu Ordo.
Jumlah kelas yang dianjurkan adalah sebanyak 3 (tiga) kelas dalam Ordo S, yaitu: S1, S2, S3 dan 2 (dua) kelas dalam Ordo N, yaitu: N1 dan N2.
Tingkat dalam kelas ditunjukkan oleh angka (nomor urut) yang ditulis dibelakang simbol Ordo. Nomor urut tersebut menunjukkan tingkatan kelas yang makin menurun dalam suatu Ordo.
Jumlah kelas yang dianjurkan adalah sebanyak 3 (tiga) kelas dalam Ordo S, yaitu: S1, S2, S3 dan 2 (dua) kelas dalam Ordo N, yaitu: N1 dan N2.
2. Pengertian Agroforestri
Agroforestry, sebagai bentuk
suatu cabang ilmu pengetahuan baru dibidang pertanian dan kehutanan, berupaya
mengenali dan mengembangkan keberadaan system agroforestry yang telah
dipraktekkan petani sejak dulu kala. Secara
sederhana agroforestry berarti menanam pepohonan di lahan pertanian, dan harus
diingat bahwa petani atau masyarakat adalah elemen pokoknya (subyek).
Dalam implementasinya
agroforestry terdiri dari berbagai bentuk.
Berkaitan dengan potensi pasar buah-buahan khususnya untuk buah manggis
maka wilayah Kabupaten Lombok Barat berpotensi
besar untuk pengembangannya.
Sebagian wilayah Lombok Barat khususnya yang berada di seputar sabuk
Gunung Rinjani memiliki iklim yang sesuai untuk pertumbuhan manggis. Sampai
saat ini sebagian besar manggis yang diperdagangkan dalam negeri maupun ekspor
berasal dari ’hutan manggis’ maupun kebun campuran (agroforestry). Tanaman manggis yang berupa tanaman tahunan dapat
dikombinasikan dengan tanaman tahunan
(tegakan) lainnya serta tanaman semusim dan pakan ternak untuk mendukung usaha
ternak petani. Model agroforestry dapat
dikembangkan pada kebun milik petani ataupun lahan hutan yang dikelola oleh
masyarakat di kawasan pinggiran hutan (Hutan Kemasyarakatan/HKm).
3. Kesesuaian Lahan Pada Sistem Agroforestri
Agroforestry diharapkan dapat memecahkan
berbagai permasalahan yang berhubungan dengan kesalahan penggunaan lahan. Kesalahan penggunaan lahan ini timbul karena
terutama disebabkan oleh desakan kebutuhan lahan garapan yang semakin terbatas
akibat ledakan pertambahan penduduk.
Secara konsepsional tiga manfaat dalam agroforestry yaitu: (1) kombinasi
tanaman yamg terdiri dari 2 strata atau lebih dapat menutup tanah dan
mengurangi erosi serta pemanfaatan sinar matahari lebih maksimal;
(2) memperluas
kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan; (3)
dengan agroforestry didapatkan bentuk hutan yang serba guna. Realisasi pengembangan agroforestry sangatlah
penting berhubung pada masa yang akan datang dengan perluasan industri
menimbulkan permintaan sumberdaya air.
Penanaman tanaman tahunan (tegakan) seperti manggis sifatnya investasi jangka panjang tetapi
melihat manfaatnya yang dapat memberikan perlindungan dan keamanan seluruh
sistem termasuk sub-sistem dibagian bawah maka tentunya hal ini menjadi
alternatif pilihan.
Pada bentuk penggunaan lahan dengan
sistem agrosilvopastura, petani mengkombinasi- kan tanaman berkayu dengan
tanaman tahunan, tanaman semusim, tanaman pakan ternak, serta ternak
berdasarkan landscape-nya, dengan tujuan untuk konservasi dan ekonomi.
Evaluasi
kesesuaian lahan untuk
jenis tanaman yang penggunaan lahannya berbentuk agrisilvikultur diperoleh
hasil tingkat kesesuaian untuk komponen tanaman berkayu dan tanaman tahunan
tergolong cukup sesuai (S2), dimana yang menjadi faktor pembatas untuk tanaman
jenis jati (Tectona grandis) dan pisang (Musa pedica) yaitu bahaya erosi dan
penyiapan lahan karena banyaknya singkapan batu di permukaan tanah. Untuk pohon
mahoni (Swietennia sp) faktor pembatas yaitu bahaya erosi. Pohon nangka
(Artocarpus integra) dengan faktor pembatas yaitu retensi hara, bahaya erosi
dan penyiapan lahan. Rambutan (Nephelium lappaceum) yang menjadi faktor pembatas
yaitu ketersediaan air,
retensi hara, bahaya erosi dan penyiapan lahan. Pinang (Areca catechu)
yang menjadi faktor
pembatas yaitu ketersediaan air dan bahaya erosi.
Faktor pembatas untuk tingkat S2 seperti
retensi hara dapat diperbaiki dengan pemberian input pupuk, pengapuran, pengolahan tanah atau
sebagainya yang biasanya dapat
diatasi oleh petani. Sedangkan untuk tanaman semusim yaitu
jagung (Zea mays) dan cabai merah (Capsicum annum) tingkat kesesuaiannya
tergolong sesuai marjinal (S3),
dimana faktor pembatasnya
yaitu ketersediaan air.
Sistem
silvopastura diperoleh hasil
tingkat kesesuaian tanaman berkayu
jati dan mahoni tergolong cukup sesuai (S2). Tanaman
tahunan yaitu pisang tingkat
kesesuaian lahan tergolong cukup sesuai
(S2) dan untuk
tanaman pakan ternak jenis rumput
gajah memiliki tingkat kesesuaian lahan sesuai marjinal (S3).
Hasil evaluasi kesesuaian lahan untuk jenis tanaman yang penggunaan lahannya
berbentuk agrosilvopastura diperoleh hasil untuk komponen tanaman berkayu jati
(Tectona grandis), mahoni(Swietennia sp), kemiri (Aleuritas moluccana),
memiliki tingkat kesesuaian lahan tergolong cukup sesuai (S2); sedangkan mangga (Mangifera indica), nangka (Artocarpus integra), rambutan
(Nephelium lappaceum), pinang (Areca catechu) memiliki tingkat kesesuaian lahan
tergolong sesuai marjinal (S3). Selanjutnya tanaman tahunan
pisang (Musa pudeca)
dan kakao (Theobroma cacao L) dan pakan ternak rumput gajah (Pennisetum
purpureum), memiliki tingkat kesesuaian lahan tergolong sesuai marjinal (S3).
No comments:
Post a Comment